Ini Penjelasan Kadinkes Sidoarjo Terkait Balita Meninggal

Kadinkes Sidoarjo, Syaf Satriawarman

Jawapes Sidoarjo – Setelah viral pemberitaan terkait diduga kelalaian dari Puskesmas Sedati mengakibatkan bayi Muhammad Iqbal Abdurrazaq (5 bulan) meninggal setelah sampai di RSUD Sidoarjo, membuat Kadinkes Sidoarjo berikan penjelasan agar tidak terjadi kesimpang siuran informasi, meski pihak dari Puskesmas sudah mendatangi rumah orang tua Iqbal dan mereka pun juga sudah mengikhlaskan kepergian bayi bungsunya.

Dalam wawancaranya dengan beberapa wartawan di ruang kerjanya, Rabu (15/5/2019) Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Syaf Satriawarman menerangkan bahwa kejadian itu berawal saat Bambang Hidayat bersama istrinya Parsih Muryawati yang datang ke Puskesmas Sedati sekitar pukul 05.30 Wib sambil membawa bayi mereka yang bernama Muhammad Iqbal Abdurrazaq umur 5 bulan untuk berobat lantaran si bayi mengalami sesak napas dan demam tinggi.

“Karena masih bayi, akhirnya Iqbal dirawat di ruang bersalin dan bukan di IGD. Nah, disitu sempat ditangani oleh Bidan dengan sebaik mungkin,” urainya.

Lanjut Syaf Satriawarman, mungkin melihat kondisi anaknya tidak mengalami perubahan, akhirnya orang tua Iqbal langsung membawanya ke RSUD Sidoarjo.

“Dan pada waktu membawa anaknya keluar dari Puskesmas tersebut, itu tanpa sepengetahuan Bidan yang berjaga pada waktu itu,” jelasnya.

Selang tak berapa lama kemudian, pihak Puskesmas Sedati mendapat informasi, kalau bayi Iqbal meninggal dunia saat sampai di RSUD.

“Dalam hal ini, saya juga tidak menyalahkan pihak Puskesmas Sedati, lantaran pasien pada waktu ditangani itu, di Puskesmas juga sedang menangani dua orang yang mau melahirkan dan pasien (bayi) dibawa keluarga tanpa sepengetahuan dari pihak Puskesmas, tetapi saya juga tidak menyalahkan pihak keluarga pasien yang mungkin terlalu keburu membawa si pasien ke RSUD. Dan mengenai ambulans, pada waktu kejadian memang sudah ada dan siap untuk membantu pasien yang membutuhkannya, jadi jika dikatakan bahwa ambulan pada waktu itu tidak tersedia, itu tidak benar,” tandasnya.

Mengakhiri wawancaranya, Syaf Satriawarman menyampaikan bahwa dengan adanya kejadian seperti ini, menjadikan kami supaya meningkatkan kinerja kita dalam penanganan pasien dan tidak ada kata “terlambat” untuk membantu pasien.

“Dan untuk selanjutnya, kemungkinan kita perlu adanya penambahan tenaga dokter dan bidan di semua Puskesmas yang ada di Sidoarjo, agar penanganan pasien dapat lebih maksimal lagi dengan mengajukan dana APBD,” pungkasnya.(tyaz)