Kuasa Hukum Penggugat Tolak Keterangan Saksi Dari Pihak Tergugat

Jawapes Surabaya – Agung Silo Widodo Basuki, SH dan Andry Ermawan, SH selaku Kuasa Hukum Penggugat menolak keterangan dua saksi yang dihadirkan dari tergugat, yakni Tauhid dan M Zainul Arifin yang keduanya sama-sama pensiunan TNI-AL karena dalam sidang sebelumnya pada Senin (6/5/2019), kedua saksi tergugat berada dalam ruang sidang dan mendengarkan langsung keterangan saksi yang dihadirkan penggugat, yakni Ahmad Fauzi. Penolakan keras tersebut digelar dalam persidangan di ruang sidang Garuda 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (13/5/2019).

Agung Silo Widodo Basuki, SH menyampaikan bahwa dalam aturannya, saksi tidak boleh ada di dalam ruang sidang. Nah pada sidang sebelumnya (6/5/2019), kedua saksi tergugat tersebut berada dalam ruang persidangan.

“Maka dari itu kami keberatan atas pernyataan kedua saksi dari pihak tergugat ini, karena itu merupakan pelanggaran kode etik beracara dan dianggap cacat hukum,” ucap Agung Silo Widodo Basuki, SH dengan nada protes keras pada Hakim Ketua, Dede Suryaman di PN Surabaya.

Mendengar protes keras dari kuasa hukum penggugat tersebut, hakim ketua Dede Suryaman berjanji akan mencatat hal itu. “Baiklah, keberatan kuasa hukum penggugat akan kami catat itu,” cetus hakim Dede Suryaman.

Perlu diketahui, bahwa dalam sidang lanjutan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) atas perubahan surat tanah petok dan tranksasi jual- beli tanah yang diajukan oleh penggugat (Ny Soekijah, Teguh Budiyanto, Nur Setiawan, Nurul Sulikhah, Wahyu Heri Purnomo, Dading Setyajid, Fitria Prihatin), melawan tergugat (Ny Ratna Kustari, Dwi Ratna Wardani, Kantor Kelurahan Asemrowo, Agam Tirto Buwono, BPN 1-Sambikerep) ini, berlangsung sedikit memanas.

Saksi pihak tergugat yaitu Tauhid adalah penjaga tambak yang mengenal Sukiaji dan Ratna Kustari. “Saya menjaga Tambang Pring dan mengontrak tambak seluas 3 hektar dari Ratna Kustari selama 4 tahun lamanya. Namun begitu saya belum pernah melihat surat kepemilikan tanah.

“Sebelum saya menyewa tanah itu, Tarwi pernah menyewa tanah dari Ratna,” katanya.

Disela persidangan, Hakim Ketua Dede Suryaman menanyakan ‘apakah selama menyewa tanah itu pernah mendapatkan gangguan?’.

“Saya menyewa tanah itu mulai tahun 1986 sampai sekarang ini dan tidak ada gangguan selama mengontrak tanah tersebut,” jawab Taufik.

Di pihak Kuasa Hukum Tergugat, Sugijanto, SH menyatakan, apakah saksi mengetahui kalau Sugito adalah saudara Sukiaji dan jika ingin menyewa tanah tersebut diarahkan kepada Ratna.

“Saya tidak mengetahui hal itu, pak. Setahu saya, tanah itu ada yang ngapling dan berdiri 24 rumah di kawasan tersebut. Dan saya juga tidak tahu, apakah tanah itu sudah terbit sertifikat atau belum,” ungkap Tauhid.

Namun demikian, saksi Tauhid mengakui pernah membantu BPN atas perintah Agam untuk pengukuran tanah. “Tanah itu oleh Agam sudah dipagari pada tahun 2016 lalu. Dari 24 rumah itu milik Dulhari, Abdul Rahman, Sunda, Mosleh, Ahmad S, Muhadi, Nafsi , Yapino, Riyanto, Alex,Zainal, Toyin, Muzadin, dan Muarif,” tukasnya seraya membuka handphone (HP) miliknya yang menyimpan nama-nama pemilik puluhan rumah tersebut.

Hingga saat ini, batas pagar Agam ada yang terlihat rusak dan roboh. “Saya tidak tahu apakah mereka membayar lewat Fauzi atau tidak, pak,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Agung Silo Widodo Basuki, SH maupun Andry Ermawan, SH menanyakan ‘apakah saksi Tauhid dibuatkan perjanjian sewa-menyewa tanah oleh Ratna‘.

“Ya, benar. Saya dibuatkan kontrak perjanjian sewa-menyewa dengan Ratna. Tetapi, perjanjian itu disimpan bapak saya dan telah meninggal dunia. Tanah itu sudah dijual,” kata Tauhid yang juga RT Tambak Pring ini.

Seingat saksi Tauhid , dirinya pernah dibawa menjumpai Agam dan Wenas. Bahkan, saksi pernah melihat ada tulisan yang dipasang oleh Polda Jatim pada tanah sebelah utara. Namun demikian, tanah itu tidak ada kaitannya dengan perkara ini.

Kuasa hukum penggugat Andry Ermawan, SH bertanya pada Tauhid, yang berperan sekali dalam tanah tersebut, mengetahui yang ngapling tanah, pengukuran tanah dan lainnya.

“Apakah saksi tidak diberi surat kuasa?,” tanya Andry Ermawan pada Tauhid.

Saksi Tauhid menjawab, bahwa dirinya hanya dikasih surat untuk menjaga tanah dan mendapatkan upah dari Agam.

Hakim ketua Dede Suryaman menegaskan, bahwa saksi Tauhid mendapatkan upah dari Agam. Namun begitu, saksi pernah melihat surat gugatan, tetapi tidak melihat isinya.

“Saya pernah menjadi saksi dalam gugatan. Namun, saya tidak mengikuti sampai putusan MA. Pemilik tanah dari Ratna ke Agam. Agam tidak pernah menjual tanah itu sampai sekarang,” kata saksi Tauhid.

Dijelaskan Tauhid , dia tidak paham sampai batas mana tanah milik Agam dan Big Brothers tersebut.

Sedangkan keterangan saksi M. Zainul Arifin Sukardi hanya mengenal Sukijah dan Setiajid.

“Saya pernah diutus oleh Wenas untuk menemui Sukijah pada 4 Oktober 2018 lalu. Saya menuju ke Jl Asem JajYa V No. 1 Surabaya, alamat Ibu Sukijah dan anaknya,” kenang saksi Zainul Arifin.

Saksi Zainul Arifin, hanya disuruh menanyakan tentang kebenaran Sukijah menggugat Agam (adik Wenas-red) masalah tanah, khususnya SHM milik Agam Tirto Bhuwono.

“Saya ketemu Sukijah dan Fitri. Tetapi, mereka tidak pernah menggugat Agam. Lantas, saya diarahkan pada Teguh, sebagai anak tertua dan menjabat sebagai -manager PT Suparma. Teguh tahu Agam dan tidak pernah menggugat Agam. Teguh hanya minta jangan ganggu dan biarkan tenang,” kata Zainul Arifin.

Itu adalah tanah milik Sukiaji dan sudah dipindah tangankan pada Agam.

Sebelum mengetukkan palunya, Hakim Ketua Dede Suryaman mempersilahkan pihak tergugat untuk menghadirkan saksi ahli dan sidang pun akan berlanjut di pekan depan.(tim)