Sinergitas Bea Cukai Juanda Gagalkan Tiga Upaya Penyelundupan Sabu Ke Indonesia

Jawapes Sidoarjo – Berbagai upaya sudah dilakukan Bea Cukai Juanda yang bersinergi dengan Kantor Pos Indonesia, Satresnarkoba Polresta Sidoarjo, Imigrasi Juanda dan Pengamanan Bandara yang meliputi Lanudal, POM AL dan Avsec PT. Angkasa Pura I dalam menggagalkan upaya penyelundupan sabu ke Indonesia.

Dalam konferensi pers yang digelar di lobby T2 Bandara Juanda, Senin (18/3/2019), Kepala KPPBC Budi Harjanto menyampaikan bahwa kali ini ada tiga penggagalan upaya penyelundupan sabu baik berupa paket yang dikirim melalui Kantor Pos maupun yang disembunyikan di dalam anus tersangka.

Budi Harjanto mengungkapkan kronologis kejadiannya yaitu pada tanggal 13 Pebruari 2019 petugas Bea Cukai Juanda melakukan pemeriksaan terhadap paket kiriman dari luar negeri yang diketahui berisi dua bungkus daun kering berwarna hijau diduga narkoba jenis cathinone dengan berat total sekitar 7.950 gram. Selanjutnya pada penindakan kedua yaitu tanggal 1 Maret 2019 di terminal kedatangan internasional Bandara Juanda, tersangka Juhar (28) warga Bangkalan dari Kuala Lumpur dengan gerak gerik yang mencurigakan akhirnya diperiksa petugas dan langsung dibawa ke rumah sakit. Berdasarkan hasil rontgen, didalam anus tersangka dikeluarkan lima bungkus bubuk kristal putih yang diduga methamphetamine. Tersangka Juhar mengaku akan dibayar Rp 15 juta jika barang sudah sampai di Indonesia. Sedangkan pada penindakan ketiga yaitu pada tanggal 7 Maret 2019, tersangka Fakaruddin (31) warga Malaysia membawa box speaker dari Malaysia, setelah diperiksa ternyata berisi bubuk kristal putih seberat 1.070 gram diduga methamphetamine.

Lanjut Budi, menurut tersangka Fakaruddin, ia mengaku bahwa barang tersebut titipan dari temannya di Madura dan akan diberi imbalan 6000 Ringgit setelah barang tersebut sampai di Madura.

“Tertangkapnya tersangka tersebut akan dikenakan Pasal 113 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara dan Pasal 102 huruf e UU Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 17 Tahun 2006 dengan ancaman denda maksimal Rp 5 Milyar,” terangnya.

Sementara itu menurut Kasatresnarkoba Polresta Sidoarjo, Kompol Sugeng Purwanto menyampaikan kepada beberapa wartawan, kedua tersangka ini ternyata ada hubungan saudara sebagai ipar tetapi keduanya tidak mengakui.

“Dan kami juga menduga bahwa perbuatan ini tidak hanya dilakukan dua kali saja seperti yang disampaikan oleh para tersangka karena perbuatannya dilakukan mulai tahun 2017 lalu.  Dan kami akan mengusut jaringannya hingga tuntas,” pungkasnya.(tyaz)